Wednesday, May 30, 2012

Ujung Tahun Trupala 2009-2010

Hampir tiga tahun sudah kami melewati masa-masa SMA kami di SMAN 6 Jakarta. Sudah hampir tiga tahun juga, kami sebagai anggota Trupala. Ya, dari beberapa organisasi yang ada di SMAN 6 Jakarta, Trupalalah yang kami pilih. Trupala seperti daya hipnotis tersendiri bagi kami sehingga kami mau menjadi kaum minoritas di SMAN 6 Jakarta. Hingga, kami juga belum meninggalkan warisan Trupala kepada junior-junior di SMAN 6 Jakarta.

Selesai SMA, kami akan melanjutkan pendidikan kami ke perguruan tinggi. Dari anak SMA menjadi anak kuliahan. Dari seorang siswi menjadi mahasiswi. Di tengah banyaknya ujian-ujian, tes, dan TO (Try Out) yang kami hadapi, saya berbahagia sekali melihat sebagian anggota Trupala yang tersisa sudah mendapatkan perguruan tinggi idamannya.

Bojum (tr 03/09)mendapatkan Komunikasi Universitas Udayana, Ucha (02/09) mendapat Sastra Belanda di Universitas Indonesia. Mereka mendapatkannya dari seleksi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Undangan. Kalau zaman dahulu biasa disebut PMDK. Tinggallah saya (tr 01/10) dan Astri (01/09) yang belum jelas akan dimana kami diterima.

Saya dan Astri harus berjuang untuk mendapatkan jurusan dan kampus yang kami mau. Saya menginginkan Komunikasi Universitas Indonesia dan Astri menginginkan Fakultas Ilmu Teknologi dan Kebumian (FITB) Insititus Teknologi Bandung (ITB). Semoga kami mendapatkannya. Selamat untuk Bojum dan Ucha. Ketika beberapa tahun kemudian kita bertemu lagi, kami akan melihat kesuksesan dalam diri masing-masing teman kami. Amin...

Friday, December 23, 2011

Latihan Wall Climbing

Foto-foto pada saat latihan wall climbing di Saung

Di tahun terakhir angkatan 2009 dan 2010 di SMAN 6 Jakarta, kami ingin membangkitkan kembali nama Trupala. Tidak sekedar memberitahu masih adanya anggota Trupala di SMAN 6 Jakarta dan berpromosi mengajak jalan-jalan bareng dengan Trupala atau menjadi anggota Trupala, tapi kami ingin membuktikan diri kami melalui suatu kompetisi.

Memang kami jarang sekali melakukan kegiatan, tapi mencoba tidak salah bukan? Kami mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi wall climbing dalam Bulungan Cup (bulcup). Memang sebekumnya kami belum pernah memanjat wall yang dimiliki ini, tapi kami berusaha dan berlatih.

Sudah beberapa minggu yang lalu kami berlatih memanjat wall Trupala. Sebagai permulaan Odong dan Om Sofyan membantu kami berlatih. Setelah beberapa kali berlatih ada juga anak SMAN 6 Jakarta yang tertarik dan ikut memanjat. Padahal tadinya banyak yang sungkan ataupun tidak menggubris ajakan kami untuk memanjat wall ini.

Walaupun terdengar disana-sini Trupala dan Gorasix adalah suatu yang bertolak belakang, namun saat ini berita itu tidak berlaku. Toh, kita sama-sama remaja yang bersekolah di SMAN 6 Jakarta, tapi dengan komunitas yang berbeda dan tidak saling menjatuhkan (saat ini). Dalam latihan juga ada beberapa anak Gorasix yang ikut memanjat. Ichan dan Cilol adalah yang sering ada dalam latihan wall climbing.

Dalam Bulcup, dibatasi beberapa orang untuk mendaftar. Perempuan yang mendaftar adalah Rae, Ucha, dan Astri. Laki-laki yang mendaftar adalah Ichan dan Gifari. Semua perempuan adalah anggota Trupala. Laki-laki sudah sampai pada papan Trupala (dalam wall climbing), tapi perempuan belum sampai. Kami semua akan berusaha menunjukkan yang terbaik dan mengangkat nama SMAN 6 Jakarta dan Trupala.

Sunday, November 6, 2011

Tidak Pernah Lengkap

Kami adalah kaum minoritas di sekolah. Disaat yang mayoritas anak memilih join dengan grup xxx, kami memilih Trupala. Jumlah kamipun sedikit hanya 4 orang. Karena sedikit, kami lebih suka bermain bersama (bermain?). Namun, selalu saja hanya bertiga. Pasti ada saja salah satu diantara kami yang tidak ikut. Kalau berempat bisa dihitung dengan jari kapan saja kami bersama.

Yang paling sering hilang adalah Bojum. Makhluk terbesar diantara kami ini, selalu sibuk untuk urusan-urusan paskib, nyari duit, dll. Tapi terkadang, dia bisa muncul secara tiba-tiba.

Salah satu contohnya adalah saat kami bertiga (saya, Ucha, dan Astri) join radio. Awalnya kami hanya bertiga, tapi tiba-tiba tanpa kami bertiga ketahui Bojum sudah menjadi reporter radio.

Cerita lainnya adalah pada saat kami memenuhi undangan untuk hadir dalam workshop penulisan essay dari Ikatan Orang Hilang Indonesia (IKOHI) di Wisma PGI, Menteng. Kembali hanya saya, Astri, dan Ucha yang menghadiri acara tersebut. Padahal tempatnya enak lho.

Beberapa bulan setelah acara IKOHI, kami mengikuti lomba film Goelali Children Festival. Kami mengajak Bojum, mungkin dia bisa menjadi talent. Settingan tempat untuk syuting adalah di Tempat Pembuanagn Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi. Tapi Bojum menolaknya.

Tidak cuma Bojum, saya pun demikian. Setiap kali ada acara Trupala, saya sering tidak menampakkan diri. Alasan yang sering muncul adalah karena kesibukan saya di beberapa organisasi, terlebih gereja dan larangan orang tua. Mulai dari Tubing di Rakata, Naik Gunung Gede, menjadi relawan bagi korban Merapi saya tidak ikut.

Ucha adalah yang paling aktif dalam acara-acara Trupala. Saya rasa semua acara Trupala dihadiri oleh Ucha. Saya berikan apresiasi kepada Ucha. Mulai dari kegiatan Trupala kami yang pertama di Rakata sampai yang terakhir menjadi relawan bencana Merapi.

Walaupun Bojum yang paling sering absen dalam kegiatan-kegiatan kami bersama, tapi dia jaranng absen untuk kegiatan Trupala. Mau dibilang nggak ada duit sekalipun, pasti Bojum ikut. Kegiatannya yang terakhir, seingat saya adalah menjadi relawan bencana Merapi.

Kalau Astri, kadang dia tidak ikut acara-acara kami. Alasan yang sering muncul adalah karena sakit, takut kecapekan, dan les. Kadang sebenernya adalah malas. Hahaha.. (maaf, tri).

Itu adalah alasan-alasan yang sering muncul ketidak lengkapan kami. Saya juga minta maaf kepada teman-teman Trupala yang namanya disebutkan. Mungkin beberapa hanyalah fiktif belaka.

Tr 001/10

Friday, September 23, 2011

Suatu Hari di Mahakam

Hari kelam itu gue lihat dengan mata gue sendiri, ketika anak cowok bentrokan dengan wartawan. Gue ada di sekolah dari mulai bentrok hingga selesai. Bahkan gue sempet nolongin cowok-cowok yang terluka dari keganasan wartawan. Apa pemicunya? Siapa yang memicu? Mengapa terpicu? Hmm, disini seperti lempar batu sembunyi tangan.

Senin (19/09/2011) saat gue dan teman-teman gue lagi ulangan awal semester. Media sudah banyak berdatangan baik itu media obline, cetak, dan elektronik. Mereka semua datang untuk menemani teman seprofesi mereka, Oktaviardi wartawan Trans7 untuk meminta pertanggung jawaban atas perampasan kaset yang dilakukan oleh siswa saat Jumat malam (16/09/2011) setelah terjadi tawuran antara SMA 6 Jakarta dengan SMA 70 Jakarta.

Disini menurut gue sampai sekarang tidak jelas apakah yang merampas itu anak 6. Dari luar gerbang, wartawan sudah berbicara kepada kami dengan cara meneriaki kata-kata yang seharusnya tidak boleh dan tidak usah dikatakan saat istirahat. Guru-guru pun sudah mengingatkan kami agar jangan mudah terprovokasi.

Konflik dimulai ketika kami pulang sekolah. Pemicunya ketika seorang guru Geografi kami terkena lemparan mangkok berisi soto. Sempat dipaksa henti oleh Polisi yang berdatangan dan keadaan mulai lenggang. Gue memberanikan diri keluar untuk melihat keadaan. Diluar, gue melihat mobil temen gue, Nicole penyok dan penuh baret di body sebelah kiri yang diparkir tepat di depan sekolah. Entah siapa yang melakukan, kemudian gue kembali masuk ke sekolah. Enggak tahu kenapa hari itu gue males untuk pulang yang mestinya gue belajar untuk ulangan besok.

Beberapa saat kemudian, perwakilan dari media disuruh masuk ke ruang Bu KD untuk melakukan mediasi. Gue ngeliat sekitar 10 orang masuk dengan ID Pers tergantung di leher mereka. Saat itu gue lagi makan di meja piket. Gue melihat raut muka mereka semua dengan penuh emosi. Para juru tulis yang tidak ikut masuk, berada di depan gerbang dan meneriakkan "Mana kepala sekolahnya! Jangan diam saja! Keluar dong! Turunin aja kepala sekolahnya! Kita bisa lapor ke Mendiknas." Makanan yang belum habis pun gue tinggal dan ketika itu juga gue ingat kata-kata Bu KD "Saya berdiri disini sebagai Kepala Sekolah  atas UU Permendiknas yang berlaku. Jika yang atas menyuruh saya turun, saya akan turun." Kata-kata yang sangat ngena buat siapa pun yang mendengarnya.

Tiba-tiba terjadi bentrok lagi dengan pemicu yang tidak jelas apa sebabnya. Seluruh perwakilan media yang melakukan mediasi di ruang Bu KD keluar semua. Di depan gerbang, tepatnya di dekat pos satpam, salah seorang temen gue, Disha didorong oleh salah seorang wartawan yang terburu-buru hendak keluar. Karena kaget, dai berteriak "Santai aja dong, Pak. Jangan beraninya sama cewek." Wartawan yang sudah emosi membalas, "Kamu enggak tau apa-apa, jangan ikut campur." Pertikaian di dalam gerbang tidak bisa dielakkan lagi, tapi bisa dilerai oleh polisi dengan cepat.

Ada seorang pers dari Media Indonesia, yang memanjat pos satpam. Kami semua menyuruh turun dari tapi dia tidak mau. Sampai seorang guru meneriakkan, "Hei kamu turun! Engga punya etika..." Dari atas pos satpam, pers tersebut berbicara sambil menunjuk guru-guru kami dan melotot, "Bapak jangan ngajarin saya etika, ajarin aja anak-anak bapak yang diluar." Menurut gue, guru kami benar karena dia main manjat saja rumah kedua kami. Penghuni SMA 6 aja ga berani manjat-manjat tanpa izin. Pers tersebut dengan berani manjat untuk merekam dari atas. Di media ada 2 versi pernyataan kenapa dia manjat keatas pos satpam. Di media yang satu dia mengatakan untuk mengambil foto dari angle yang pas. Media lain, dia mengatakan untuk melindungi diri dari "keganasan" anak SMA di bawah. Seharusnya sebagai seorang yang menjadi korban, harus konsisten dengan pernyataan sendiri. Enggak cuma wartawan Media Indonesia, tapi semua orang harus konsisten.

Setelah beberapa menit, akhirnya ia turun dengan dikawal 2 orang polisi dengan berkata, " Mereka duluan, Pak yang mancing-mancing saya. Saya jadi emosi."

Keadaan sempat kondusif sejenak dengan cowok duduk di dan menunggu di taman depan sekolah serta pers yang berkeliaran di lingkungan sekolah. Beberapa dari polsek dan polres harus masuk ke ruangan Bu KD. Gue menghituung waktu dan mereka cukup lama berada di lingkungan Bu KD. Mereka juga membawa satu perwakilan pers. Kemudian polisi-polisi tersebut keluar dari gerbang dan langsung dikerubuti wartawan. Polisi mengatakan bahwa masalah perampasan kaset dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan menyuruh wartawan untuk membubarkan diri. Namun, mereka masih tetap berada disitu.

Beberapa dari teman gue bermaksud untuk mengambil motor yang masih terparkir di SMA 6. Saat Gema, salah satu teman gue keluar dari gerbang, dia ditendang oleh seorang wartawan. Gue lihat jelas, Gema dikeroyok oleh wartawan. Polisi segera memisahkan dan gerbang sekolah langsung dikunci oleh satpam. Posisi gue saat itu berada tepat di dalam gerbang. "Pak, buka gerbangnya! Itu temen saya dikeroyok, Pak. Itu temen saya!' Acil berteriak dan mencoba membuka pintu gerbang, tapi sia-sia. Gema dipaksa turun oleh polisi dan masuk sekolah. Motor Gema dibawa masuk ke 6 lewat pintu belakang oleh Ridwan, pegawai koperasi.

Kondisi kembali tenang dan siswa yang masih ada di dalam dipersilahkan untuk pulang dengan dikawal polisi. Gue belom mau pulang karena Eci masih tambahan pelajaran di dalam. Gue berada di kantin bersama Rian dan Nanda. Gue melihat-lihat kondisi luar dari dalam kantin. Beberapa wartawan lagi merekam video saat mediasi tadi dari kamera seorang wartawan lainnya. Satu meter sebelah kanan gue ada Kae. Tiba-tiba wartawan yang diluar manggil Kae, 'Ehh, sini dong keluar," sambil melambaikan tangan ke Kae. Gue kira Kae bakal diem aja, tapi dia jawab dengan santainya, 'Enggak ah, lo aja yang kesini." Situasi saat itu sudah bisa dikatakan sudah mulai membaik. Cowo-cowo juga sudah di Taman Sampit semua. Syukurlah.

Ternyata, cowo-cowo datang lagi untuk mengambil motor karena masih banyak motor di parkiran. Ketika Ijul, mengambil motor (motor diparkir di luar gerbang), gue denger Ijul ditampar menggunakan helm oleh salah satu wartawan hingga akhirnya berdarah. Ijul dibawa masuk oleh Reil untuk dibersihkan darahnya dan ditolong. Gue panik dan membantu Ijul. darah terus mengalir, hingga celana putihnya berubah warna menjadi merah. Pipinya robek, bibirnya jontor. Diluar semakin rusuh.

Ga lama kemudian, korban lain menyusul. Acil datang dengan darah mimisan.Kata Acil, dia ditonjok hidungnya. Dimas datang dengan dibopong beberapa cowok dengan dahinya yang memar dan mebiru, perutnya sakit. Katanya, dia dikeroyok 3 orang wartawan karena dia melihat ada 6 kaki. Guntur datang dengan mata yang bengep. Katanya dia kena termos melayang.Iradat juga datang dengan dahinya yang robek, walaupun kecil. Bu KD datang untuk membantu mengobati siswa yang menjadi korban. "Tenang, nak kalian dilindungi hukum." Salut melihat Bu KD, mengahadapi masalah sebesar ini dengan tetap kuat dan tenang, menghadapi dengan senyuman.

Tiba-tiba seorang perwakilan pers masuk dan meminta pertanggung jawaban Bu KD terhadapa teman-teman wartawan yang luka-luka.Padahal di depannya sudah jelas juga ada anak yang terluka-luka.

Gue melihat keluar, anak-anak cowok dinasehati Bu Titin agar tidak mudah terprovokasi. Mereka diantar pulang sampai perbatasan Jakarta Selatan. Gue juga ikut pulang. Keadaan di luar sangat mencekam. Mungkin keadaan seperti inilah saat kerusuhan 1998 terjadi.

Di kosan, gue ga tenang. Gue cuma memantau berita online dari laptop. Gue ngambil kesimpulan, media hanya memojokan SMA 6. Gue dapat SMS Gateway, bahwa besok kami diliburkan. Disini, gue merasa dirugikan karena kami sedang menghadapi ulangan menjadi libur. Gue dape info bahwa wartawan lagi menjadi stalker twitter.

Gue tetep memantau berita dari manapun, tetep sama. Mereka mengabarkan para wartawan yang menjadi korban. Padahal juga ada murid yang menjadi korban dan jumlahnya lebih banyak daripada mereka. Kemudian juga lokasi SMA 6 yang sering disebutkan di Bulungan. Inget ya, di Bulungan SMA 70, SMA 6 di Mahakam.

Gue disini nulis bukan untuk menjadi terkenal tapi meluruskan pandangan orang tentang SMA 6 Jakarta, mengembalikan citra 6 dengan segenap almamater walau tidak sepenuhnya. Dan intinya, gue hanya pelajar, bibit generasi penerus bangsa yang ingin belajar dengan tenang tanpa adanya konflik.

Maaf sebelumnya karena gue pribadi kecewa dengan pernyataan alumni SMA 6 anggota Komisi I DPR yang menyatakan tawuran SMA 6 dan SMA 70 adalah tradisi. Menurut kamus Bahasa Indonesia, kata "tradisi" artinya, yang sudah dilestarikan. Tapi disini seluruh warga sekolah sudah mereduksi bahkan mencoba mengeleminasi tawuran tersebut. Karena tawuran merupakan perilaku yang primitif di zaman peradaban tinggi.

Together we build, together we can! Pray for Mahakam

Jakarta, 23 September 2011

05.06 WIB

Tannya Heryanto
Tr 003/09

Friday, April 1, 2011

Ulang Tahun Trupala ke 36

Tanggal 18 Maret 2011 kemarin Trupala berulang tahun yang ke-36. Yap, Trupala memang sudah sangat tua. Layaknya kopi kapal api spesial mix, pahit manis kehidupan telah kita lewati bersama. Banyak memories di dalam 'dunia Trupala' yang sulit di hapuskan karena terlalu indah, itu mengapa walau keadaannya memprihatinkan hingga saat ini Trupala masih berdiri.

Setiap Trupala berulang tahun biasanya di adakan apel (semacam upacara) di Saung (tempat kumpul anak Trupala, letaknya di samping Gor Bulungan), lalu dilanjutkan makan-makan sambil ngobrol-ngobrol. Persiapan buat ulang tahun ini pun ngga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, gue (Ucha), Astri, Bojum, Rae, dan angkatan muda lainnya (Deva, Ubay) udah stand by dari siang buat nyiapain acara ulang tahun ini, misalnya beli kue tart, minum, snack, peralatan makan, dll.

Apel sendiri biasa di mulai setelah sholat maghrib. Tapi sampai pukul 7 malem baru sedikit anak Trupala yang dateng. Jangan heran, karena ngaret adalah budaya Trupala, janjian ngumpul jam 10 pagi bisa-bisa baru ngumpul jam 10 malem, mungkin karena faktor anak-anaknya yang kelewat cuek, mengarah ke mati rasa (curcol). Kerena sedikit yang dateng, tiba-tiba Om Sigit nyeletuk,
"Udah ke Grand Central yuk makan-makan", 
kami mengheningkan cipta sambil bertatapan,
"Terus ini makanannya gimana om?",
"Udah gampang, ayo ke Grand Central"
Bener-bener dadakan! Akhirnya kita semua ke Grand Central meninggalkan makanan-makanan dan kaleng-kaleng Green Sands yang ada di Saung.
     *FYI, Grand Central adalah restoran seafood letaknya di depan Saung & di samping Clairmont, Bulungan. Satu meja (kalo ngga salah) harganya1 juta ke atas.


Setibanya di Grand Central barulah anak-anak Trupala dari berbagai angkatan dateng, mungkin karena mareka tau kalo ngga jadi apel dan jadinya makan-makan di Grand Central, jadinya mereka dateng, coba kalo tetep apel belum tentu mereka mau dateng hahaha (ini sih otak gue). Satu restoran penuh dengan anak Trupala, sangat berisik, tidak karuan, dan berasa rumah sendiri, begitulah kelakuan anak-anak Trupala. Kita makan di meja bundar, satu meja kira-kira ada 10 kursi, gue sendiri semeja dengan makhluk-makhluk ini: Among, Astri, Bojum, Efi, Deva, Tony, Ubay, dan Uyab. Seperti anak SD kita berebutan ngambil lauk yang ada diatas meja, hahaha kita makan sambil dengerin para tetua (senior angkatan atas) memberikan sambutan.
                                       (ki-ka): Rae, Bojum, Gue, Astri

Acara berakhir sekitar jam 9 malem, di potongnya kue tart oleh pemegang nomor angkatan tertua(1975) lupa Om siapa  dan nomor angkatan termuda(2010) yaitu Rae, menandakan bahwa acara ulang tahun telah usai.

Kita yang angkatan muda kembali ke Saung untuk ngebagiin makanan yang ngga jadi kita makan ke tukang parkir, petugas kebersihan, dan orang-orang yang ada di sekitar Bulungan. Lalu kita pulang ke rumah masing-masing (ya iyalah), sedangkan para tetua melanjutkan acara ulang tahun dengan karaoke bersama.

Hari itu indah dan berbeda, Trupala yang biasanya merayakan ulang tahun di bawah pohon, kali ini berulang tahun di restoran bintang 5. Ada pesan yang di dapat dari pertemuan hari itu, "Kita bangga dengan Trupala, tapi Trupala belum bangga dengan kita". Sedikit sedih, dan senyuman buat Trupala. Semoga Trupala bisa terus ada..

Salam Trupala
Ucha Tr.002/09